Bagas Kurnia Prasetyo Hi! I'am Interior Designer @ Ruangarsitek, Senang belajar banyak tentang bisnis & properti. Lover of food, games, words, and cat.

Ikuti saya di:        

Artikel ini dibuat oleh tim konten Ruangarsitek. Jika ingin update referensi tentang desain rumah silahkan ikuti disini ruangarsitek.id.

Rumah Adat Suku Dayak

3 min read

Rumah Adat Suku Dayak di Kalimantan Tengah

Rumah Adat Suku Dayak – Suku Dayak merupakan suku asli yang mendiami Pulau Kalimantan. Tapi, suku ini memiliki budaya yang berbeda tergantung di mana mereka tinggal. Salah satunya diwujudkan dengan  bentuk rumah adatnya.

Contohnya saja Suku Dayak yang ada di Provinsi Kalimantan Tengah, Rumah adat suku Dayak di provinsi ini sangat unik.  Kamu mau tahu bagaimana bentuk dan makna filosofisnya?

Rumah Adat Suku Dayak di Kalimantan Tengah

Keunikan Betang, Rumah Adat Dayak

Keunikan Betang, Rumah Adat Dayak
satujam.com

Kamu tahu nama rumah adat di Kalimantan Tengah? Nama rumah adatnya adalah Betang.

Sama seperti rumah khas suku Dayak lainnya, rumah Betang dibangun dari material kayu keras. Masyarakat Dayak biasanya menggunakan jenis kayu besi atau ulin yang sudah terkenal awet hingga ratusan tahun lebih.

Rumah Betah memang hampir mirip dengan rumah adat suku Dayak dari provinsi lain.

Bentuknya bahkan mirip sekali dengan gambar rumah adat pada uang Rp 500,00 zaman dulu. Tapi ternyata rumah Betang punya keunikan sendiri dari segi konstruksi dan juga filosofinya.

Rumah adat Betang punya bentuk yang sangat unik. Biasanya betang berukuran sangat luas. Bentuknya memanjang antara 30-150 meter, lebarnya sendiri bisa mencapai 10-30 meter.

Kalau dihitung-hitung, luasnya bahkan lebih dari 1 lapangan sepak bola, kan?

Rumah Betang yang begitu luas ini tidak kamu tempati sendiri, tapi bersifat komunal.

Artinya 1 rumah Betang digunakan untuk 1 suku.

Kamu bisa tinggal  di dalamnya dengan 6-7 keluarga. Bayangkan berapa banyak jumlah orang yang bisa berada dalam 1 atap rumah Betang.

Kondisi ini juga yang membuat bagian dalam rumah Betang minim penyekat ruangan. Bagian dalamnya sengaja dibuat luas agar bisa menampung lebih banyak anggota.

Filosofi dan Nilai Rumah Adat Dayak Betang

Filosofi dan Nilai Rumah Adat Dayak Betang
idntimes.com

Rumah adat Betang tidak bisa dibangun sembarangan. Rumah ini harus menghadap ke arah timur dan bagian belakangnya menghadap barat.

Rumah Betang dibangun dengan model rumah panggung. Tujuannya untuk melindungi para penghuninya dari serangan hewan buas dan juga banjir bandang.

Selain bentuk bangunannya yang punya makna mendalam terhadap kondisi lingkungan, ternyata ada beberapa makna lain yang terkandung dari rumah adat ini.

Satu rumah Betang memiliki 1 ketua sukunya sendiri. Rumah ini juga selalu menghadap ke timur sebagai bentuk perlambang perjalanan kehidupan, mulai saat kamu dilahirkan (matahari terbit) sampai saat senja (matahari terbenam).

Meskipun sungai menimbulkan bahaya seperti banjir dan hewan buas, tapi masyarakat Dayak tetap teguh bermukim di sampingnya.

Kamu memang jarang menemukan suku Dayak di wilayah perkotaan Kalimantan Selatan. Mereka memang lebih suka hidup menyatu dengan alam. Mereka juga percaya bahwa sungai menjadi sumber penghidupan.

Pembagian Ruang dalam Rumah Betang

Pembagian Ruang dalam Rumah Betang
pariwisataindonesia.id

Satu perkampungan suku Dayak bisa terdiri dari 1 atau lebih rumah Betang . Tergantung berapa banyak jumlah anggota suku yang tinggal.

Kamu bisa menjumpai rumah Betang yang dibangun berdekatan dan berjajar.

Pada era modern, pemerintah setempat membuat replika Rumah adat suku Dayak Betang. Tapi sudah menggunakan perpaduan antara semen, batu, dan juga kayu keras.

Bagaimana banyak keluarga bisa tinggal dalam 1 atap? Kamu sebagai orang modern pasti tidak bisa membayangkannya.

Tapi ternyata suku Dayak punya aturan pembagian ruangan sendiri dalam rumah Betang. Hal inilah yang membuat mereka tetap rukun dan kompak mengikuti adat istiadat yang sudah berlaku di sana.

Bagaimana mereka membagi rumah super luas dan minim sekat ini menjadi ruangan yang multifungsi? Kuncinya ada pada ketua rumah tersebut.

Peran pembagian ruangan ini sepenuhnya dimiliki oleh si ketua rumah. Termasuk pembagian kamar dan luas bagian lainnya. Kamu penasaran kan ada ruang apa saja dalam rumah Betang ini?

  1. Bagian tengah rumah terdapat area yang bernama Sado atau Poros. Bentuknya mirip dengan lorong. Fungsi utama Sado adalah ruang untuk lalu lalang penghuni Rumah Betang ini. Selain itu, Sado juga bisa digunakan sebagai ruang diskusi bersama. Ruang ini bahkan juga bisa digunakan ibu-ibu untuk kegiatan menumbuk padi.
  2. Pada bagian samping terdapat ruang tidur. Ruangan ini sengaja ditempatkan di pinggir dan memanjang dari depan ke belakang. Orang yang paling tua mendapatkan kamar yang paling hulu, sedangkan anggota termudanya mendapatkan kamar paling hilir.
  3. Bagian dapur rumah ini harus menghadap ke arah sungai. Konon masyarakat Dayak di sana percaya penempatan ruangan ini akan memberikan berkah dan rezeki di kemudian hari.
  4. Semua tangga yang ada di rumah Betang harus berjumlah ganjil. Tangga ini biasanya terdapat di bagian kanan, kiri, dan juga depan rumah.
  5. Ada sebuah ruang yang disebut Pante. Ruangan ini letaknya di bagian atas atap rumah. Bentuknya Pante menjorok ke atas. Pante punya fungsi penting untuk penghuni rumah. Pante bisa digunakan untuk menjemur pakaian, padi, juga upacara adat.

Mitos Hantu Kepala Terbang

Lho, setelah membahas rumah adat Kalimantan Tengah, kok sekarang membahas mengenai mitos menyeramkan ini?

Sebenarnya bukan tanpa alasan mitos kepala terbang ini dibahas. Masyarakat adat Dayak di Kalimantan Tengah memang sudah cukup lama bersahabat dengan mitos gaib ini.

Bahkan konsekuensi mitos ini sampai terbawa dalam kebiasaan hidup mereka.

1. Anak Tangga Dibawa Masuk ke Dalam Rumah

Tangga yang dibangun di rumah Betang punya patokan sendiri. Kamu harus membangunnya untuk ukuran 1 orang yang lewat saja.

Kamu kira-kira harus membuat anak tangga berukuran 0,5 meter. Uniknya, saat malam tiba anak-anak tangga ini akan diangkat dan dibawa masuk. Kenapa?

Ternyata daerah ini masih erat sekali dengan mitos adanya hantu kuyang atau kepala terbang. Bentuknya bisa dibilang sangat mengerikan yaitu kepala manusia utuh dengan organ-organ dalam terburai keluar.

Hantu kuyang ini bergentayangan di malam hari. Konon kuyang bisa terbang dari 1 tempat ke tempat lain untuk mencari mangsa.

2. Korban Kuyang

Korbannya adalah anak-anak dan wanita hamil. Suku Dayak yang masih hidup dekat dengan alam sangat mengenal mitos ini dengan baik.

Mereka bahkan percaya jika anak tangga rumah Betang tak diangkat sampai malam hari, maka hantu kuyang bisa masuk rumah. Kuyang bisa saja memburu kepala penghuni rumah tersebut untuk dijadikan tumbal.

3. Kuyang adalah Ngayau

Masyarakat Kalimantan Tengah juga bisa menyebut kuyang dengan istilah ngayau. Konon hantu ini merupakan bentuk santet atau guna-guna yang dikirimkan oleh musuh mereka.

Jadi, saat malam mulai tiba, kamu tidak akan melihat masyarakat Dayak yang lalu-lalang, apalagi jalan-jalan keluar hanya untuk mencari udara segar.

Mereka terbiasa masuk rumah semua saat senja. Mereka akan menaikkan anak tangga, kemudian menutup pintu dengan rapat. Pada malam hari, mereka biasa menghabiskan waktu dengan bercengkrama, membuat kerajinan, dan juga berdiskusi.

Rumah adat suku Dayak memang beragam tergantung provinsinya. Tapi suku Dayak di Kalimantan Tengah punya rumah Betang yang unik dan filosofi mendalam.

Bahkan masyarakatnya masih tetap hidup selaras dengan alam. Rumah adat ini bisa dijumpai di daerah pedalaman Kalimantan Tengah, tepatnya di sepanjang tepian sungai.

Baca Juga :

Bagas Kurnia Prasetyo Hi! I'am Interior Designer @ Ruangarsitek, Senang belajar banyak tentang bisnis & properti. Lover of food, games, words, and cat.
Artikel Lainnya :